Timing Pernikahan

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Pernikahan sejatinya tempat bertemunya potensi fitrah sepasang manusia yg fitrahnya tumbuh paripurna sejak masa anak sampai masa pemuda sehingga menjadi misi personal yang ajeg. Kemudian potensi fitrah dan misi personal itu bersinergi menjadi misi pernikahan atau misi keluarga yang diperjuangkan bersama dengan penuh kecintaan dan kebahagiaan walau dikelilingi hal hal tak menyenangkan, onak dan duri dstnya. Misi pernikahan atau misi keluarga bukanlah jalan landai namun jalan mendaki lagi sukar, penuh rintangan dan ujian. Namun bagi pernikahan atau keluarga yg telah menemukan misi pernikahannya, itu ibarat pesawat terbang yang menemukan rute penerbangannya, memastikan jalan menuju tujuan penerbangannya maka semua guncangan dan badai apalagi angin lembut dan langit cerah hanyalah membuat semakin seru dan bahagianya perjalanan serta semakin merekatkan cinta mereka.

Namun jika pernikahan itu tempat bertemunya sepasang manusia yang fitrahnya belum tumbuh paripurna dan tak menjadi potensi apalagi misi hidup sebelum pernikahan, maka pernikahan kemudian berjalan tanpa sinergi, sulit menemukan misi bersama pernikahan, tak ada perjuangan bersama yang membuat cinta makin bergerola. Lalu pernikahan tanpa misi itu hanya menjadi sarang komplain kelemahan masing masing, komplain kelemahan ayah yang galau jadi ayah dan suami, komplain kelemahan istri yang galau jadi istri dan ibu. Keluarga tanpa misi besar dan tak sibuk ada perjuangan besar mewujudkan misi itu yang dijalani bersama, maka akan disibukkan oleh hal hal remeh temeh, keributan terjadi pada sesuatu yang tak penting penting, lalu semua yang remeh itu seolah menjadi membesar dan menjadi alasan untuk membenci dan bercerai. Ibarat kapal tanpa rute dan destini, melayang layang menunggu bahan bakar habis atau dihempas tiupan ringan angin sepoi sepoi apalagi angin badai.

Reff:

Advertisements

Jadilah Arsitek Peradaban

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Jadilah Arsitek Peradaban

Membangun peradaban bukanlah pekerjaan seseorang
Membangun peradaban juga bukanlah selalu dimulai dari kekuasaan

Dulu orang mengira, nabi akhir zaman diutus di jantung kebiadaban Romawi dan Persia
Ternyata Muhammad Rasul Allah itu tidak diutus dijantung kekuasaan Imperium itu
Tetapi diutus di daerah gersang dan orang badui yang tak dilirik siapapun karena dianggap tak berpotensi apapun

Ternyata Beliau diutus sebagai Arsitek Peradaban, bukan sebagai Terapis Kebiadaban
Memulai debut Kenabiannya dari orang orang sederhana dan hanif
Nabi Mulia tak mengajarkan Sains & Tech untuk menaklukan 2 kekuasaan besar
Tetapi memulainya dengan mentarbiyah fitrah para Sahabatnya
Fitrah yang tumbuh paripurna inilah yang berghirah dan siap menerima Kitabullah
Fitrah yang tumbuh paripurna secsra kolektif inilah yang mengkristal menjadi Misi Besar untuk peradaban besar

Tak berapa lama, digulunglah dua imperium besar itu dengan Misi Besar
Misi Besar itulah kemudian yang melahirkan beragam Inovasi hebat bagi dunia
Ternyata inovasi tak membutuhkan kecerdasan, tetapi separuhnya keberanian dan separuhnya rasa penasaran
Berani dan Penasaran, ghirah dan hamasah adalah buah dari fitrah yang tumbuh hebat dan indah

Maka jadilah arsitek peradaban
Mulailah dari rumah rumah kita dengan potensi potensi fitrah dan kearifan yang ada
Bangunlah misi personal tiap tiap anggota keluarga
Padukan menjadi misi keluarga yang ajeg

Berjuanglah bersama mewujudkan misi keluarga itu dengan penuh cinta dan kemesraan
Karena cinta yang tumbuh dari fitrah adalah energi besar perubahan

Lalu jalinlah komunitas untuk bersama membangun peradaban
Temukan orang orang yang yakin apa yang kau yakini
Jadikan keyakinan bersama itu sebagai Misi Besar peradaban
Rancanglah bersama model baru peradaban yang Allah ridhai sehingga persdaban lama menjadi usang

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Kediri, 15 July 2018

Reff:

Urban, Generasi yang Tercerabut dari Fitrahnya

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Urban, Generasi yang Tercerabut dari Fitrahnya

Sepanjang sistem pendidikan masih berorientasi urbanisasi dan pemerintah pusat masih pakai kacamata penjajah yg melihat desa tidak punya potensi apapun sehingga harus disantuni maka selamanya urbanisasi akan terus membesar, dan desa terus tertinggal.

Angka peningkatan arus urbanisasi di Indonesia, sebesar 4.4% per tahun, itu terbesar di Asia, di atas India, China bahkan Thailand. Parahnya, sistem persekolahan yang berorientasi urbanisasi itu sama sekali tak menyiapkan anak desa untuk siap menjadi urban, apalagi membangun desanya.

Di Indonesia, setiap 1% urban, hanya menambah pendapatan per kapita kota tujuan sebesar 4%. Padahal di India mencapai 13%, di China 11%. Sementara tiap tahun kota mengeluarkan anggaran besar untuk infrastruktur termasuk 1 juta tempat tinggal baru.

Worldbank meramalkan dalam 10 tahun ke depan 70% penduduk Indonesia ada di kota besar, bukan berarti desa desa menjadi kota, tetapi semua penduduk meninggalkan desa ke kota besar yang itu-itu saja sejak Indonesia merdeka. Tiada desa yang menjadi kota sejak Indonesia merdeka. Padahal sistem pertahanan terbaik adalah sejahteranya desa desa.

Masalah urbanisasi bukan hanya meninggalkan masalah ekonomi, namun juga sosial dan korbannya adalah anak anak. Kota seperti Jakarta dan kota pinggiran sekitarnya akan semakin tak ramah dan tak layak anak. Akan makin banyak orangtua atau keluarga muda yang tinggal di pinggiran kota, makin banyak suami istri yang harus bekerja dua duanya karena harus mencicil rumah dan memenuhi biaya hidup yang semakin mahal.

Walhasil anak anak para urban ini semakin less parented atau semakin banyak dan sering diserahkan atau dititipkan pada lembaga persekolahan, karena ketiadaan waktu untuk mendidik. Waktu Sabtu dan Ahad adalah waktu mengentaskan stress para pekerja urban dengan makan dan shopping serta entertain lainnya, bukan waktu bermakna bersama anak.

Ini seperti siklus kezhaliman, kelak anak anak para urban inipun menjadi para pekerja urban lagi, yang tak akan sempat mendidik anak anaknya karena mereka dicetak oleh sistem persekolahan yang berorientasi urban.

Mari kita putus siklus kezhaliman perbudakan modern ini dengan memperkuat keluarga dan komunitas

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah
#fitrahbasededucation

Reff:

Mempersiapkan Generasi AqilBaligh dari Masjid (Bagian 2)

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Mempersiapkan Generasi AqilBaligh dari Masjid (Bagian 2)

Kurikulum Pendidikan Generasi AqilBaligh

Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi AqilBaligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi AqilBaligh, menurut ustadz Adriano Rusfi .

Pendidikan AqilBaligh ini mulai intensif ketika anak berusia 10-12 tahun sampai usia 15-19 tahun, namun perlahan merawat fitrah ketika usia dini. Umumnya kita menggegas ketika usia dini sehingga banyak fitrah yang rusak, lalu sibuk memperbaikinya ketika menjelang aqilbaligh.

Prinsip Pendidikan Generasi AqilBaligh

  1. Anak adalah manusia aqil-baligh dan mukallaf.

Anak berhak mengambil keputusan sendiri atas dirinya
Anak bertanggung jawab atas perilaku sadar dan bebasnya
Anak berhak memiliki ruang pribadi (privacy)
Anak telah terkena hukum-hukum sosial dan syariah

2.Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, mulia, dan berdaya

Anak harus diberikan kepercayaan untuk mengatasi masalahnya sendiri
Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang bermoral dan mencintai kebenaran
Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang memiliki kelengkapan dasar yang memadai dalam menjalani kehidupan

3.Allah telah menjadikan kehidupan ini sempurna dan mudah, dan tak akan membebani hambaNya kecuali sesuai dengan kadar kesanggupannya

Harus diyakini bahwa tak ada aspek kehidupan yang terlampau sulit untuk dijalani oleh Anak
Harus diyakini bahwa tak ada tantangan, tekanan, dan cobaan hidup yang terlampau berat untuk diatasi Anak.
Harus diyakini bahwa kehidupan itu sendiri telah menyediakan fasilitas yang cukup untuk menjalaninya.

4.Kesuksesan di dunia merupakan salah satu indikator kesuksesan di akhirat

Anak harus dirangsang untuk membangun ambisi kehidupan yang maksimal dan realistis, di genggaman tangan, bukan di dalam hati
Anak harus memiliki perencanaan hidup yang matang sesuai dengan bakat dan kapasitasnya
Anak harus memiliki kinerja yang optimal sesuai standard kuantitas, kualitas dan waktu.

  1. Allah itu hidup, berdiri, dan mengurusi makhlukNya

Harus diyakini bahwa Allah tetap terlibat dalam memberikan pertolongan kepada manusia, khususnya Anak, dalam memikul beban kehidupan.
Harus diyakini bahwa Allah telah memberikan bekal khusus kepada hamba-hambaNya dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan yang khas, sesuai dengan ruang dan waktu yang dihadapi

6.Kehidupan adalah guru yang terbaik

Anak harus diberikan kesempatan seluas mungkin untuk menjalani dan belajar dari kehidupan.
Anak perlu dilibatkan secara optimal dalam permasalahan-permasalahan kehidupan di lingkungannya.
Perlu disediakan sebuah model kehidupan yang realistis sebagai wahana pelatihan dan pembelajaran hidup nyata bagi Anak.

  1. Allah telah menjadikan kehidupan ini sebagai ladang, permainan, dan cobaan

Anak harus dikembangkan untuk menjadi manusia yang aktif dan produktif
Anak harus diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menggembirakan.
Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima dan menjalani permasalahan dan cobaan hidup secara alami

  1. Keterlibatan dalam realita kehidupan di dunia dengan segala konsekwensinya merupakan prasyarat keimanan dan surga

Anak harus diberikan kesempatan untuk mengalami dan merasakan hukum-hukum kehidupan secara wajar.
Anak harus dihadapkan pada realita kehidupan yang terjadi pada ruang dan waktu kehidupannya.
Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima ujian-ujian kehidupan, baik material, maupun mental

Untuk menjalani Prinsip Prinsip di atas maka berikut adalah beberapa aktifitas yang dapat dimasukkan ke dalam program pendidikan generasi AqilBaligh.

Dalam pembinaan Pemuda di Masjid, maka peran komunitas harus terlibat secara penuh termasuk para orangtua Jama’ah Masjid.

  1. Mencari nafkah

Ingatkan jauh-jauh hari : saat baligh, kamu harus menghidupi diri sendiri
Sekali lagi : belajar tega
Jangan penuhi 100 % permintaan
Berbisnis mulai dari rumah
Sharing pekerjaan pada anak
Mulai dari mencari uang jajan

  1. Latihan berorganisasi

Berorganisasi adalah berkehidupan
Organisasi : manajemen, kerjasama, kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dsb.
Mulai dari mengorganisir rumah
Menjadi EO acara keluarga
OMIS : Organisasi Murid Intra Sekolah

  1. Pendidikan yang berani dan tega

Jaman memang sudah berubah, namun berubah lebih keras
Di luar sana makin tak aman, namun anak jangan disembunyikan
Mewariskan jalan sukses, bukan hasil sukses
Hadirkan si Raja Tega

  1. Membangun Tanggungjawab

Anak tak selemah yang dibayangkan
Consequential learning
Tangan mencencang – bahu memikul
“Membalas” perlakuan
Merasakan (sebagian) akibat dari perbuatan
Berikan kebebasan
Serahkan amanah dan tanggungjawab

  1. Memecahkan masalah

Anak bukan makhluk bodoh
Jangan sembunyikan masalah
Saling berbagi masalah
Menekan percepatan baligh
Bawa masalah kehidupan ke rumah
Rajinlah berdiskusi
Ajarkan problem solving

(Bersambung)

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikamberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Reff:

Mempersiapkan Generasi AqilBaligh dari Masjid (Bagian 1)

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Mempersiapkan Generasi AqilBaligh dari Masjid (Bagian 1)

Ada sebuah teguran bagi kita semua dalam mendidik generasi, “buat apa kita ajarkan anak Taklif Syar’i, namun tidak kita siapkan mereka untuk Mukalaf (kemampuan memikul beban syariah, dari menyeru kepada Tauhid, Ibadah, sampai kepada Nafkah, Jihad dan Menikah) ketika AqilBaligh tiba”.

Ya, umumnya kita sangat concern mengajarkan berbagai kewajiban agama kepada anak anak kita ketika usia 7 -12 tahun bahkan lebih dini, namun kita tidak menyiapkannya pada usia 12 – 15 tahun untuk menjadi pemuda sejati (arrijaal) yang mandiri, punya peran peradaban spesifik yang memberi manfaat bagi ummat dan memiliki kemampuan untuk mengemban syariah itu sendiri dalam makna yang lebih luas sejak berusia 15 tahun.

Kita lihat sepanjang sejarah peradaban Islam, sejak zaman Rasulullah SAW, dari generasi ke generasi selalu muncul para pemuda belasan tahun yang sudah memiliki peran peradaban yang dibutuhkan ummat dan zamannya, yang menebar rahmat dan manfaat.

Lihatlah Usamah bin Zaid RA, telah dinikahkan Nabi SAW di usia 15 tahun dan telah ditunjuk menjadi panglima perang di usia 16 tahun. Lihatlah Imam Syafi’i telah menjadi mahasiswa di usia 11 tahun dan menjadi mufti di usia 16 tahun. Lihatlah Alkhawarizmi telah menjadi pakar matematika di usia 10 tahun dan menjadi guru besar matematika di usia 18 tahun, lihatlah Muhammad alFatih telah memulai ekspedisi penaklukan Konstantinopel sejak usia 16 tahun dan menaklukannya di usia 21 tahun.

Hal ini berlangsung terus sampai abad 20, lihatlah Hasan al Banna di Mesir, Abul A’la Maududi di Pakistan, Muhammad Natsir di Indonesia dll mereka telah memulai debut peran peradabannya ketika berusia belasan tahun.

Mereka bukan Generasi yang hanya pandai dan hafal ilmu agama, namun mereka telah memiliki peran peradaban terbaik untuk menyeru Tauhidullah sesuai peran spesifik yang mereka pilih secara sadar dan dibutuhkan ummat pada zamannya ketika berusia 15- 19 tahun.

Abad ini, generasi seperti di atas tidak lahir kembali. Ummat mengekor habis habisan kepada sistem persekolahan barat, yang diakui oleh peradaban barat mereka sendiri sebagai sistem yang merusak fitrah manusia, sistem yang melakukan pembocahan (infantization) yang melambatkan kemandirian dan kedewasaan sampai usia 25-26 tahun, sistem yang hanya mengantarkan generasi muda Muslim untuk menjadi kuli dan pekerja yang mengais ngais upah di kota kota besar, sistem yang menyibukkan anak anak kita pada persaingan semu yang tak menuju kemana mana (race to no where) tanpa peran peradaban yang jelas.

Maka munculah generasi yang “tidak beradab” pada Allah, pada dirinya, pada keluarganya, pada desanya, pada alamnya, pada zamannya, pada masyarakat dan ummatnya dstnya. Mereka tercerabut dari akar agamanya, akar dirinya, akar keluarganya, akar masyarakat dan ummatnya.

Dari mana Kita memulai kembali melahirkan Generasi AqilBaligh?

Di Indonesia, sesungguhnya para Ulama dahulu telah meninggalkan sistem pendidikan yang luarbiasa. Sebelum sistem pendidikan kolonial dicangkokan di bumi nusantara, para Ulama telah mentradisikan model pendidikan berbasis Masjid atau berbasis Jamaah, seperti Model Pendidikan Surau dan Merantau, Meunasah, Dayah, Rangkang, Langgar, Pesantren dll yang kesemuanya berbasis jamaah atau komunitas dengan pusat pembinaan di Masjid.

Maka mari kita mulai kembalikan peran Masjid sebagai sentra untuk melahirkan generasi AqilBaligh, generasi yang memiliki peran peradaban terbaik, generasi mandiri dan mampu menjadi mukalaf yang mampu mengemban syariah dengan baik, generais yang menebar rahmat dan manfaat bagi ummat pada usia belasan tahun.

Generasi yang tidak memiliki peran peradaban ketika aqilbaligh karena tidak tumbuh aspek fitrahnya, ibarat sungai yang tidak mengalir, menjadi sarang hama penyakit dan sampah yang menebar wabah dan keburukan.

Masjid walau dipenuhi anak anak TPA, namun kering dan sepi dari pembinaan anak anak muda untuk persiapan AqilBaligh. Masjid seolah bukan pusat mempersiapkan anak anak kita menjadi pemuda yang Mukalaf, yang memiliki peran peradaban yang dibutuhkan ummat ketika AqilBaligh tiba.

Masjid kini hanya tempat belajar agama secara terbatas, terlepas dan tidak relevan dengan realitas sosial dan problematika masyarakat sekitar, terlepas dari potensi lingkungan dan alam sekitar, terlepas dari proses mendidik generasi peradaban untuk melahirkan para pemuda sebagai pemeran peradaban dengan kepemimpinan dan karya solutif bagi ummat.

Jika demikian maka Masjid akan sulit diharapkan untuk menjadi pusat dan agen perubahan, terutama jika tidak ada proses mendidik pemuda di dalamnya yang mengantarkan mereka pada peran peran terbaik peradaban.

Kurikulum Pendidikan Generasi AqilBaligh

Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi AqilBaligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi AqilBaligh.

(Bersambung)

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikamberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Reff:

Hidup Hanya Sekali, Temukan Jalan, Awali dengan Kembali ke Fitrah

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Hidup Hanya Sekali, Temukan Jalan, Awali dengan Kembali ke Fitrah

Rutinitas, tekanan hidup, tekanan keluarga, himpitan masalah dstnya membuat kita sama sekali tak sempat berhenti sejenak utk merenung dan menemukan jalan hidup kita. Tiba2 waktu habis, expired, tamat.

Sesungguhnya semua yg kita alami, semua peristiwa apapun itu yg sedih maupun yg senang, adalah cara Allah utk menggiring kita kembali kepada fitrah. Fitrah adalah titik tumpu untuk memulai jalan hidup.

Masalahnya adalah jika terpuruk maka umumnya kita marah2 dan cenderung kufur alias tak shabar. Jika senang umumnya lupa diri dan tak tahu diri alias tak bersyukur dgn makna sesungguhnya. Syukur bukan cuma “say thank you” tetapi menyadari karunia ini sebagai cara Alllah agar menemukan jalan hidup utk menuju Allah.

Benih dari jalan hidup kita adalah fitrah. Sebelum bertemu atau kembali ke jalan hidup kita maka kembalilah ke fitrah, diantaranya dengan tazkiyatunnafs atau mendekat kpd Allah agar Allah bawa kita kepada kejernihan pandangan utk kembali kepada titik kesadaran, “utk apa kita dihadirkan dan dilahirkan”.

Maksud (the purpose) Allah menghadirkan kita adalah agar beribadah, namun setiap kita punya tugas spesifik atau alasan kehadiran (the mission) di dunia. Itulah jalan hidup yg harus ditemukan dan diperjuangkan sampai mati dan menghadap Allah SWT.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang orang yang diberi nikmat atas mereka”

“Katakanlah (ya Muhammad), setiap kalian beramal menurut potensi bawaannya (syaqilah) masing masing. Maka Robbmulah yang paling tahu siapa yg paling benar jalannya” (QS 17:84)

Maka mendekatlah kpd Allah agar ditunjukkan jalan kita yg benar dan tepat. Mendekat kpd Allah adalah tazkiyatunnafs utk kembali ke fitrah, kembali ke titik kesadaran siapa kita, sebelum kemudian menemukan jalan hidup kita yg ujungnya perjumpaan dgn Allah SWT.

“Hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah dengan lurus. Tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menjadikan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas ciptaan (fitrah) Allah. Itulah agama yang tegak, namun kebanyakan manusia tak mengetahuinya” (QS 30:30)

Kembali ke fitrah itu adalah upaya utk

  1. membangkitkan kembali ghirah keimanan agar menjadi kekuatan utk mampu menyeru kebenaran dan melakukan perubahan yg Allah ridhai
  2. membangkitkan kembali ghirah belajar dan bernalar agar kelak menjadi kekuatan utk mampu berinovasi sampai mati
  3. membangkitkan kembali ghirah bakat dan kepemimpinan atas bakat itu, agar kelak menjadi kekuatan utk mampu berkarya atau memberi solusi pd bidang2 tertentu sesuai bakat kita di masyarakat
  4. membangkitkan kembali ghirah seksualitas agar menjadi kekuatan sbg orangtua sejati yg mampu mendidik anak dan pasangannya serta keturunannya
  5. membangkitkan kembali ghirah indiivdualitas dan sosialitas agar menjadi kekuatan utk memimpin dan dipimpin.

Kombinasi dari semua ghirah dan kekuatan akan menjadi jalan hidup kita yg sangat spesifik. Sehingga kelak kita bisa menyatakan misi hidup kita, “saya hadir di muka bumi untuk melakukan …. sehingga memberi manfaat besar kepada …. dengan cara … ”

Tentu saja di awal memerlukan perjuangan untuk kembali ke fitrah, dan setelah kembali ke fitrah maka suara panggilan hidup itu akan terdengar lebih jelas lalu sambutlah panggilan itu sehingga menjadi jalan hidup atau misi hidup berupa tugas spesifik peradaban.

Dengan tugas spesifik itulah kita bisa ikhlash menebar sebesar besar manfaat kepada ummat dan semesta, sehingga jiwa kita menjadi tenang, kemudian Allah menjadi ridha, dan masuklah kita ke dalam golongan Hambanya dan ke dalam SyurgaNya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Konsep Perubahan dalam Perspektif Fitrah

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Konsep Perubahan dalam Perspektif Fitrah

Pada hakekatnya, perubahan itu tidak pernah ada dan tak perlu terjadi. Karena sepanjang manusia berada pada fitrahnya maka Allah selalu berikan kebaikan dan manusia menjadi semakin baik dan mulia.

Perubahan itu akhirnya terpaksa terjadi sebagai upaya mengembalikan fitrah yang menyimpang dikarenakan ada segolongan manusia yang mencoba menjadi tuhan dengan merekayasa fitrah sehingga menjadi terpuruklah manusia maupun alam dan kehidupan ke dalam krisis.

“Allah SWT tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu merubah apa yang ada dalam diri mereka”

Ayat di atas sering dijadikan dalil untuk melakukan perubahan dari keterpurukan untuk bangkit menuju kemuliaan padahal Asbabun nuzul ayat ini adalah justru kemuliaan akan tetap sebagai kemuliaan sampai manusia merubah kemuliaan sehingga menjadi kehinaan.

Jadi ketika berbicara perubahan sesungguhnya bukan berbicara sesuatu yang menuju kebaruan, tetapi justru kita sedang berbicara bagaimana mengembalikan fitrah semesta yang rusak karena rekayasa gegabah tangan manusia. Fitrah itu meliputi fitrah manusia, fitrah alam dan fitrah kehidupan.

Maka apa apa yang sudah baik yang Allah berikan kepada kita, termasuk kebaikan kebaikan fitrah yang Allah karuniakan pada diri kita, anak kita, keluarga kita dstnya janganlah pernah dirubah atau dirusak atau direkayasa demi kepentingan syahwat ambisi atau obsesi lebay kita.

Ikuti saja jalan fitrah itu, kelak ia akan jadi jalan hidup terbaik, lalu pandulah jalan fitrah itu dengan Kitabullah agar sempurna, indah dan berbahagia.

“Tetaplah pada Fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas Ciptaan (Fitrah) Allah”

Salam Pendidikan Perubahan

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff: