Author Archives: dimaspramudia

About dimaspramudia

Aku untukmu, darimu untukqu, dan untuk semua

Renungan Pendidikan #5 – Sebuah rumah tangga bukan hanya kumpulan fisik layaknya kandang ternak

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Apa yang disisakan dari sebuah rumah tangga atau keluarga tanpa ada aktifitas pendidikan di dalamnya?, Apakah rumah kita hanya sebuah ruang hampa tempat makan dan tidur serta (maaf) mandi dan buang hajat?

Sebagaimana AlQuran akan menerangi rumah kita dengan membaca dan mentadaburinya, maka sebuah rumah tangga atau keluarga dengan aktifitas pendidikan juga akan dipenuhi cahaya.

Sebuah rumah tanpa aktifitas pendidikan di dalamnya, bagai ruang kusam dan gelap krn di dalamnya tidak ada proses saling memberi cahaya yaitu proses mendidik dan dididik, tidak ada nasehat utk saling menyadarkan dan disadarkan, begitupula tidak ada keceriaan dan kepercayaan utk saling menumbuhkan dan ditumbuhkan.

Sebuah rumah tangga bukan hanya kumpulan fisik layaknya kandang ternak, namun dia sepenuhnya lebih kepada kumpulan ruh, hati dan fikiran.

Apa jadinya jika fikiran dan hati ayah sehari hari adalah fikiran tentang pekerjaan dan masalah kantor serta hobby yg dibawa ke rumah yg menyerobot hak pendidikan anak dan keluarganya?

Apa jadinya jika fikiran dan hati anak adalah fikiran dan perasaan tentang pekerjaan dan masalah sekolah yang dibawa ke rumah, yg menyerobot hak orangtua utk mendidiknya?

Lalu apa jadinya pula jika fikiran dan perasaan bunda sehari hari adalah fikiran dan perhatian tentang pekerjaan dan masalah kantor dan rumah sehari-hari yang tidak kunjung habisnya.

Tentu saja pasti ada orangtua yg memiliki fikiran dan keinginan utk mendidik di dalam rumah, namun sayangnya wacana dan pembicaraan sekitar pendidikan adalah bukan pembicaraan tentang kesejatian sebuah pendidikan.

Pendidikan bagi banyak keluarga adalah tentang pekerjaan sekolah yg dibawa ke rumah, lalu sekolah sewenang2 memberi nama pekerjaan itu sebagai pekerjaan rumah bukan pekerjaan sekolah, padahal berbeda antara aktifitas sekolah dan aktifitas rumah.Begitulah aktifitas sekolah banyak menyerobot aktifitas rumah yg luhur yg sdh ada sejak ribuan tahun lalu.

Mindset kita tentang makna sukses pendidikan adalah makna kesuksesan berupa sekolah favorit, rangking, ijasah dan gelar yg menggantikan makna sukses pendidikan sejati yaitu utk menyadari peran penciptaan di muka bumi serta memberi manfaat yg banyak bagi sesama dan semesta.

Makna sosialisasi anak sering dimaknakan dengan makna hadirnya bersama teman-teman seumuran dalam ruang kelas seharian, yg menggantikan makna relasi sosial antar usia yang lebih luas.

Makna belajar lebih sering dimaknakan dengan kegiatan menghabiskan bahan pelajaran dan persiapan ujian, menggantikan makna belajar sejati untuk menjadi diri seutuhnya.

Makna tentang tempat belajar yang selalu diberi stigma bahwa tempat belajar terbaik hanya di sekolah saja, menggantikan semua tempat belajar yang lebih baik di muka bumi.

Fikiran ayah sehari2 ttg pendidikan anak2nya adalah menyediakan biaya sebanyak2nya agar dapat bersekolah setinggi2nya.Fikiran anak sehari2 ttg pendidikan adalah menyelesaikan pekerjaan rumah secepat secepatnya dan sebanyak2nya, lalu kuliah setinggi mungkin.Fikiran bunda sehari2 tentang pendidikan adalah memastikan sang ayah menyediakan biaya untuk sekolah dan memastikan sang anak menyediakan waktu untuk bersekolah sepenuh masa anak2 dan sepenuh masa sebelum aqilbalighnya.

Apa yang sesungguhnya diniatkan oleh mereka yang menikah bila memaknakan pendidikan seperti itu? Apakah artinya sebuah keinginan mendidik bila tanpa berwujud aktifitas mendidik anak2nya sendiri dengan pendidikan sejati yang sesungguhnya?

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber : https://www.facebook.com/notes/millenial-learning-center/kumpulan-renungan-pendidikan-1-27/783415225073408

Advertisements

Imanan wa Ihtisaban #1

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Barangkali kita sudah bosan mendengar uraian ceramah Ramadhan yang menasehati pentingnya menjalani Ramadhan dengan Imanan dan Ihtisaban.

Di kehidupan nyata, Imanan & Ihtisaban sesungguhnya adalah mindset hebat yang merupakan syarat sukses segala sesuatu. Jika kita jeli, apapun dalam kehidupan ternyata harus dimulai dari Keyakinan (Imanan) yang dalam atau Believe (pastikan apa yang dijalani itu benar – Do the Right Thing) lalu kemudian dijalankan dgn penuh perhitungan (Ihtisab) atau Presisi (pastikan apa yang dijalani itu dilakukan dengan benar – Do the Thing Right).

Ramadhan melatih 2 mindset sekaligus sikap itu, yaitu Imanan dan Ihtisaban, agar kelak menjadi sikap bahkan karakter yang dibentuk (Adab) dalam menjalani kehidupan yang lebih berkualitas dan bermakna.

Imanan

Dalam kehidupan keseharian manusia, ternyata banyak manusia yang menjalani hidup tanpa kesadaran yang penuh, baik kesadaran dalam kehidupan personal maupun kesadaran dalam kehidupan pernikahan bahkan bisnis (life nor business conciousness).

Manusia abad modern ini pada umumnya menjalani kehidupan ini tanpa keyakinan yang kokoh atas apa yang dijalaninya (Do The Right Thing) dan ketika menjalaninya pun tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk mengeksekusinya dengan baik dan tajam (Do the thing Right).

Sebagian besar masyarakat maju di Barat barangkali sangat hebat dalam teknik dan metodologi (Do the Thing Right) namun umumnya gagal membawa nilai nilai yang diyakininya dalam kehidupannya. Mereka gagal menemukan “mengapa” (alasan mengakar) mereka menjalani kehidupan baik bisnis, pendidikan bahkan pernikahan dan bernegara sekalipun. Mereka gagal untuk “Find Their Why” maka ujungnya pasti gagal membawa Believe dalam kehidupannya.

Sementara di masyarakat Timur, mereka punya keyakinan atau setidakmya agama namun gagal membawa nilai nilai keyakinannya itu dalam kehidupan nyata. Itulah mengapa hari ini dalam tataran kehidupan kita bisa mengatakan banyak pula orang beragama namun sesungguhnya tak memiliki keyakinan.

Mengapa kebanyakan manusia gagal membawa keyakinan (believe) dalam bidang bidang dimana ia menjalani kehidupannya walau ia beragama sekalipun? Karena mereka terlalu banyak menyalahkan tekanan dan kemudian tekanan itu membuat mereka tak berani atau tak mampu mengambil alih tanggungjawab. Menolak tanggungjawab adalah ciri lemahnya keyakinan, mereka gagal membawa keyakinannya dalam kehidupannya.

Manusia tanpa believe, sudah pasti menjalani ilusi kehidupan, misalnya kuliah tapi salah jurusan, skripsi dan tesis karya satu satunya sepanjang hidupnya, berkarir namun salah karir, menikah tetapi galau jadi suami atau istri, hebat dalam ilmu agama dan ilmu sains tapi tak punya bakat atau peran dan misi hidup, menikah namun galau jadi ayah dan ibu, punya anak namun lebih pandai menitipkan daripada mendidik sendiri dstnya.

Maka mari kita latih mindset “Imanan” selama Ramadhan agar mindset ini terbawa dalam setiap langkah kehidupan, bawalah keyakinan yang sejati dalam pernikahan, pendidikan, bisnis dsbnya. Jangan katakan bahwa lingkungan buruk, negara rusak, saya salah asuh, keluarga menekan dstnya hanya untuk menutupi kelemahan kita untuk mengambil tanggung jawab atau kelemahan kita merespon masalah (responsibility). Penolakan mengambil alih tanggungjawab adalah bentuk dispower atau kelemahan keyakinan.

Tirulah Abu Bakar RA, alih alih menyalahkan masalah, bahkan Beliau membawa masalah Ummat menjadi masalah personal.

“Bagaimana Ummat bisa seperti ini sementara Abu Bakar masih ada?”

Itulah wujud Imanan.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Renungan Pendidikan #4 – Betapa bijaknya Rasulullah SAW yang tidak meninggalkan kurikulum untuk semua orang

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Bila anda memiliki beberapa anak, maka perhatikanlah baik baik, bahwa walau mereka pernah berada dalam rahim yang sama, ayah ibu yang sama, lahir di rumah sakit yang sama, bahkan lahir kembar identik sama dstnya, namun mereka sesungguhnya takkan pernah sama, mereka memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing yang berbeda. Bukan hanya ciri fisik namun juga sifat bawaannya masing masing.

Sampai kapanpun seorang kakak tidak akan pernah menjadi adiknya, dan seorang adik tidak pernah menjadi kakaknya. Anak kita tidak akan pernah menjadi versi kedua dari orang lain kecuali jika kita memaksanya demikian dengan membuatnya menderita karena mengingkari jatidirinya.

Ingatlah bahwa seseorang tidak akan menjadi maksimal jika dipaksa menjadi atau menjalani sesuatu yang bukan dirinya. Alangkah bodohnya meminta kuda menjadi ikan, menyuruh ikan menjadi burung, memaksa burung menjadi kuda. Apakah kita pernah memanjatkan doa doa agar anak kita menjadi seperti anak orang lain?

Bukan Allah Yang Maha Mendengar, tidak berkenan mengabulkan doa-doa kita, karena apa jadinya jika kuda didoakan agar menjadi ikan, maka akan lahir makhluk aneh (bukan unik) yang bukan hebat bahkan menjadi mengerikan atau menggelikan.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap anak itu unik. Maka, janganlah pernah memaksa anak anak kita untuk meniru orang lain, menyuruh mereka seperti anak tetangga, menceramahi setiap hari kehebatan anak orang lain. Maksud berbuat obsesif begitu apa ya?

Apakah kita yang menciptakan anak kita sehingga kita tahu anak kita harus menjadi apa kelak? Bukankah Allah yang menciptakan mereka, bahkan kita tidak pernah tahu tujuan spesifik penciptaan anak kita, apa misi spesifik anak-anak kita di muka bumi? Tugas kita hanyalah menemani mereka dalam menemukan, menyadari dan menjaga fitrah nya, termasuk fitrah bakat atau potensi uniknya.

Karena itu, sejatinya memang tidak ada 1 kurikulumpun cocok untuk semua sekolah bahkan cocok untuk semua orang.

Setiap satuan pendidikan bahkan mesti punya kurikulum khas satuan pendidikan itu bukan kurikulum nasional apalagi yang cuma sekedar basa basi mulok.

Setiap anak bahkan memerlukan personalized education terkait potensi dan character unik serta “curriculum” vitae nya masing masing.

Ketahuilah bahwa tidak ada satu obat ajaib (one magic medicine) untuk semua jenis penyakit, bahkan tidak ada satu komposisi gizi yg cocok untuk semua orang.

Siapapun yang mencoba mendikte akan jadi dikator. Betapa jeniusnya Ki Hajar Dewantara yang menempatkan negara hanya pendorong, sebagai Tut Wuri Handayani dan memerankan Guru sebagai pamong.

Betapa bijaknya Rasulullah SAW yang tidak meninggalkan kurikulum untuk semua orang, tetapi cukup membuat panduan bagi setiap orang agar menyelaraskan panduan itu dengan potensi dan karakter unik dirinya masing masing dalam rangka memuliakan dan menyempurnakan akhlaknya.

Jadi sesungguhnya apa yang mau diperbaiki atas kurikulum pendidikan nasional, kecuali meninggalkannya lalu membuat kurikulum personal sendiri utk anak-anak kita sendiri yang berbeda dari anak lain? Karena setiap anak adalah begitu istimewa…

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber : https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10205397941338113

Renungan Pendidikan #3 – Jangan gegabah menjejali mutiara ini dengan beragam zat imitasi dengan maksud agar semakin indah

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Sesungguhnya tidak ada seorangpun anak yang berdoa dan berharap lahir ke dunia dalam keadaan nakal dan jahat.

Jika sempat lihatlah wajah-wajah bengis mengerikan anak dan remaja yang tawuran, atau perhatikan wajah sayu dan tatapan kosong anak-anak depresi dan korban narkoba, atau jenguk jiwa-jiwa remaja galau melalui mata bingung dan frustasi mereka dibalik tawa dan canda yang tak bermakna.

Maka jujurlah apakah mereka mau ditakdirkan demikian? Maka jujurlah apakah Allah SWT menghendaki keburukan bagi hamba-hambaNya? Maka jujurlah, apakah itu dosa mereka sehingga mereka demikian?

Sesungguhnya mereka adalah korban kelalaian kita para orangtua, mereka korban obsesi dan kesembronoan yang merusak fitrah baik mereka. Ingatlah bahwa mereka dahulu adalah bayi-bayi mungil yang lucu, yang senyum, tawa dan tangisnya meluluhkan hati siapapun. Lalu bagaimana bisa di kemudian hari bayi-bayi ini menjadi beringas, nakal dan jahat?

Sesungguhnya setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah. Sesungguhnya juga bahwa Allah SWT tidak akan merubah semua fitrah baik yang ada dalam diri mereka sampai lingkungan, sistem pendidikan, orangtua dll berbuat gegabah “sok tahu” merubahnya sehingga terluka, tersimpangkan, atau terpendam selama-lamanya.

Anak-anak kita bukanlah kertas putih yang bisa kita jejali dengan tulisan sebanyaknya dan semaunya, bukan! Anak-anak kita adalah mutiara terpendam yang mesti disucikan dan disadarkan akan keindahan keunikan mutiara yang mereka ditakdirkan Allah SWT untuk memilikinya. Mutiara yang tidak perlu diasah, hanya perlu diletakkan pada tempat yang sesuai dan terang agar cahayanya berkilau sempurna. Berbaik sangkalah kepada Allah SWT.

Jangan gegabah menjejali mutiara ini dengan beragam zat imitasi dengan maksud agar semakin indah. Tidak perlu. Mutiara ini hanya perlu ditemani, disentuh dengan cinta yang tulus, dan diletakkan pada tempat dan sudut yang tepat sehingga cahayanya berpendar pendar indah menebar manfaat rahmat menyelimuti dunia. Cahayanya menjadi penyejuk mata kita, sebagaimana doa-doa kita tentang keturunan yang baik.

Maka, yakinlah bahwa mutiara akan bertambah indah bila berkumpul dengan mutiara. Mutiara akan tenggelam dalam lumpur hitam yang pekat. Yakinlah ruh-ruh yang baik akan merapat bershaf-shat menuju kemuliaannya. Maka perbaikilah fitrah kita wahai orangtua, sucikanlah fitrah kita sebelum kita mensucikan fitrah anak-anak kita melalui pendidikan.

Sesungguhnya apa yang keluar dari fitrah yang baik akan diterima oleh fitrah yang baik. Apa yang keluar dari hati yang bersih dan damai maka akan tiba di hamparan hijau hati yg bersih dan damai. Apa yang hanya dari mulut semata, maka akan berhenti di telinga saja.

Mari kita renungkan, siapakah di muka bumi makhluk yang paling ridha mensucikan diri demi anak kita? Saya yakin anda bisa jujur menjawabnya…

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber : https://www.facebook.com/notes/millenial-learning-center/kumpulan-renungan-pendidikan-1-27/783415225073408

Renungan Pendidikan #2 – Sesungguhnya masa mendidik anak kita tidaklah lama

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Sesungguhnya masa mendidik anak kita tidaklah lama, itu hanya berlangsung sampai usia Aqil Baligh (usia 14-15 tahun). Sebuah masa yang singkat, masa yang cuma seperempat dari usia kita – orangtuanya – jika Allah berikan jatah 60 tahun.

Padahal anak-anak dan keturunan yang sholeh akan menjamin kebahagiaan akhirat kita dalam masa yang tiada berbatas. Lalu mengapa amanah terindah ini kita sia-siakan dengan mengirim mereka ke lembaga, ke asrama, ke sekolah dll sebelum masa aqil baligh mereka tiba.

Jika demikian, lalu apa yang ada dalam benak kita tentang amanah terindah dan kesempatan untuk kekal bahagia di akhirat nanti?
Jika demikian, lalu apa yang kita akan jawab di hadapan Allah SWT tentang pendidikan mereka?
Apakah lembaga, asrama dan sekolah akan dimintai tanggungjawab di akhirat kelak?

Jika demikian masihkah kita berharap syurga dari doa-doa anak-anak kita, padahal mereka dititipkan pada pihak ketiga yang tidak dimintai tanggungjawab sedikitpun dan diragukan doanya dikabulkan?
Bukankah ketika usia mereka dititipkan itu masih menjadi tanggungjawab kita?
Bukankah doa yang dipanjatkan oleh orang-orang seiman yang bertalian darah akan lebih diterima Allah SWT?

Setiap yang beriman pada AlQuran pasti tahu jawabannya. Bahkan memelihara anak yatimpun sebaiknya dalam dekapan keluarga yang utuh bukan cuma disantuni, apalagi anak kandung yang jelas menjadi tanggungjawab penuh kedua orangtuanya.

Lihatlah wajah teduh anak-anak kita ketika mereka terlelap, beberapa tahun ke depan wajah-wajah ini akan berubah menjadi wajah orang dewasa yang setara dengan kita, lalu kita tidak punya lagi kesempatan memperbaiki karakter yang sudah terbentuk, apalagi menyempurnakan akhlak mereka.

Lalu apa yang kita jawab dihadapan Allah SWT atas karakter-karakter yang sudah terbentuk tadi? Apakah kita mampu berlepas tangan dari tanggungjawab kita di akhirat?

Ayah Bunda, mari kita didik anak-anak kita dengan tangan, hati, mata, telinga, lisan kita sendiri. Membangun Home Education bukanlah pilihan, namun kewajiban setiap orangtua yg beriman, itu tidak memerlukan penjelasan dan pembuktian lagi.

Pada galibnya anak-anak kita akan hidup lebih lama dari kita, walau bisa saja mereka mendahului kita dipanggil Sang Khalik. Dalam menjalani masa depannya nanti – yang tanpa kehadiran kita – anak-anak kita akan mengenang kita.

Anak-anak kita memerlukan kenangan-kenangan yang memunculkan kesan-kesan dan imaji-imaji yg baik, positif, tulus, penuh cinta dan utuh tentang masa lalu mereka bersama kedua orangtuanya, itu semua agar mereka kuat menghadapi masa sendiri ketika mereka kelak dewasa.

Dan itu hanya diperoleh pada masa yang singkat 15 tahun pertama dalam kehidupannya, yang diberikan oleh orangtuanya dengan tulus dan ikhlash yang tak tergantikan oleh siapapun.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber : https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa?fref=nf

Renungan Pendidikan #1 – Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yang paling kenal potensi keunikan anak-anaknya

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yang paling kenal potensi keunikan anak-anaknya. Dari sanalah karakter-karakter baik dikembangkan dan disempurnakan dengan akhlak mulia. Kedua orangtuanya lah makhluk yang paling mencintai dengan tulus anak-anaknya. Orangtua sejati adalah mereka yang menginginkan kebahagiaan anak-anaknya lebih dari apapun di muka bumi.

Dunia persekolahan adalah dunia yang tidak pernah mengandung anak-anak kita, tidak pernah melahirkan anak-anak kita bahkan tidak pernah diberi amanah oleh Allah SWTsesaatpun juga, karena itu persekolahan bukanlah dunia yang sungguh-sungguh mampu mengenal dan mencintai anak-anak kita dengan tulus dan ikhlas.

Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini? Merekalah sebagai amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yang lebih damai dan sebagai amanah yang akan membanggakan Ummat Muhammad di yaumilqiyamah kelak.

Membangun “home education” bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orangtua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan.

Sayangnya banyak ortu yang menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anak-anak berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga-lembaga kursus. Obrolan tentang pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijasah, prestasi-prestas akademis dan tugas-tugas sekolah yang dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yang anak-anak kita miliki.

Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orangtua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, kesejatian anak-anak kita. Jangan sekali-kali merubah fitrah kesejatian itu semua karena itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di muka bumi.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬ dan akhlak

Sumber : https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa?fref=nf

Anak anak kita diciptakan unik sesuai zamannya

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Wahai pendiri sekolah, jika ingin buat sekolah unggul akademis maka terimalah siswa yg hanya berbakat akademis saja. Apa maksud sekolahmu terima sebanyak banyak siswa tanpa peduli bakat akademisnya padahal hanya untuk dicetak dan disaring menurut saringan keunggulan akademismu.

Bayangkan, bagaimana perasaan anak yang tak berbakat akademis di sekolahmu menyaksikan sekolah dan gurumu menyanjung nyanjung setinggi langit siswa yang berprestasi akademis, meletakkan derajat tertinggi si juara olimpiade akademis ini dan itu, selalu memajang nama si juara di baliho besar setiap hari, menyebut nyebut nama sang juara di upacara maupun di setiap pengumuman. Apa maksudmu begitu?

Gegabah sekali berfikir semua orang bisa hebat di akademis dengan memacu kompetisi akademis. Tidakkah pernah terfikir olehmu bahwa siswa siswa pecundang sekolahmu, yaitu si rata rata akademis dan si bodoh akademis akan rusak konsep dirinya? Bukankah mereka akan merasa dirinya warga kelas dua, tak cerah masa depan, belum kegilaan dan depresi karena ditekan setiap hari di rumah dan di sekolah agar bisa seperti siswa siswa elite juara di baliho itu.

Bagaimana bisa kau hebatkan segelintir anak dengan akademisnya, kau hancurkan konsep diri sebagian besar anak lainnya yang sesungguhnya punya bakat hebat di bidang lainnya. Bagaimana juga perasaan orangtua yang ternyata anaknya bodoh akademis di sekolahmu? Pasti hancur perasaan dan harapan mereka. Efeknya tak perlu ditanya lagi.

Wahai pendiri sekolah unggul akademis, mungkin cita citamu mulia, ingin melahirkan siswa berkualitas hebat akademis, orang orang hebat akademis di negeri ini, namun barangkali kau terlalu sibuk melihat kehebatan akademis dirimu dan kehebatan bangsa lain, kau lupa bahwa akademis bukan lagi ukuran kehebatan sebuah bangsa dan ukuran kualitas generasi masa depan. Kau terlalu memberhalakan akademis, kau fikir negeri ini akan hebat oleh banyaknya pakar akademis?

Sadarlah, anak anak kita diciptakan unik sesuai zamannya, mereka diciptakan untuk menghadapi masa depan bukan masa lalu. Hebatkanlah anak anak kita sesuai keunikan fitrahnya masing masing, maka akan hebatlah peradaban bangsa ini di masa depan. Ketahuilah ada beragam peran hebat yang dibutuhkan di masa depan bukan hanya peran peran akademisi dan kepandaian akademis.

Jika kau fokus pada akademis, maka jangan pernah menerima siswa yang tak berbakat akademis yang akan menjadi pecundang semata di sekolahmu dan barangkali pecundang selama sisa usianya. Sungguh tak adil dan tak beradab.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff: