Imanan wa Ihtisaban #10

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Sepuluh hari terakhir dari 30 hari atau etape terakhir dari 3 etape Ramadhan, seharusnya menjadi puncak perjuangan menggapai sebanyak pahala di malam malam Qadr menuju 1 Syawal agar pada hari finishnya kita kembali fitri.

Begitupula dalam kehidupan, sepertiga waktu terakhir usia kita seharusnya merupakan pacuan produktifitas menebar manfaat secara eksponensial menuju husnul khatimah, bertemu Allah dalam keadaan seperti semula.

Begitupula Muhammad SAW, sejak diangkat menjadi Nabi di usia 40, maka 23 tahun atau sepertiga akhir hidupnya sampai wafatnya adalah masa masa prestasi spektakuler menuntaskan tugas atau misi Kenabiannya. Begitulah orang orang hebat sepanjang sejarah, menjelang akhir hayatnya justru menempuh masa emasnya atau golden age nya.

Namun sayangnya banyak orang di sepertiga waktu terakhir hidupnya malah berhenti berkarya, berhenti bekerja, lengser keprabon, mandeg pandito, menikmati uang dan simpanan pensiun dengan tinggal di tempat nyaman mencari ketenangan menunggu ajal. Mereka merasa bebas tugas setelah pensiun di usia 50, 60 atau 70 tahun.

Ketika seseorang berfikir bebas tugas, maka seluruh semesta sel dalam dirinya mengirim pesan bahwa ia sudah selesai, kemudian dengan serta merta sel sel mulai bersusulan berhenti berfungsi, berbagai penyakit kemudian datang dan kita sama sama telah melihat akhir hidup yang demikian.

Di Bulan Ramadhan, di 10 malam terakhir, mindset dan mental kita dididik untuk memandang bahwa akhir pacuan menjelang finish adalah akhir yang produktif dan menebar rahmat bahkan kita dikaruniakan Lailatul Qadr atau malam yang dikatakan lebih baik dari 1000 bulan.

Jika kita tunaikan pacuan akhir di bulan Ramadhan, hidup kita seolah abadi karena lebih baik dari 1000 bulan atau 82 tahun lebih, sebuah rentang waktu yang merupakan rata rata usia terpanjang manusia akhir zaman.

Maknanya, jika kita peroleh Lailatul Qadr, seolah hidup kita tak pernah bedakhir karena terus memberi manfaat, usia kita seolah telah melebihi 82 tahun dengan penuh karya dan manfaat. Inilah fase itqun minannaar, karena kita telah diampuni semua dosanya dan terhindar dari api neraka. Subhanallah.

Maka mari kita niatkan I’tikaf kita di 10 malam terakhir untuk menjemput malam lailatul qadr, menuai sebesar besar pahala dan memperoleh sebesar ridha Allah SwT dengan amal amal terbaik yang semakin mendekatkan diri kepadaNya.

Semoga Ramadhan di 10 hari terakhir memberikan sebesar besar kesadaran kita bahwa akhir kehidupan adalah puncak pacuan sebaik baik amal pahala. Maka jangan pernah pesimis dengan masa tua, justru makin bertambah usia semakin optimis dan produktif.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Advertisements

Renungan Pendidikan #22 – Mari segera rancang pendidikan anak anak kita yang membangkitkan fitrah2 baik mereka

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Sadarkah kita, bahwa anak anak kita, generasi kita, digiring memasuki sistem pendidikan berorientasi persaingan atau kompetisi yang menyengsarakan dan membahyakan kebudayaan dan akhlak manusia?

Kompetisi terlihat sepintas sebagai sebuah hal yang biasa, layaknya perlombaan olahraga atau sebagai kemestian bisnis, dsbnya. Ketika diingatkan bahaya kompetisi maka selalu pertanyaannya adalah, “bukankah orang perlu berkompetisi agar menjadi unggul atau terlihat unggul?”.

Ingatlah bahwa menjadi unggul bukanlah secara tunggal mengungguli semua orang bak anak Tuhan ala Yahudi atau ras termulia ala nazisme, namun menjadi unggul adalah menjadi paling bermanfaat dan paling menebar rahmat atas semua manusia, ummat dan bangsa dengan fokus tumbuh atas keunikannya sendiri lalu bekerjasama dengan beragam keunggulan unik yang lainnya sebagai karunia Allah swt.

Siapapun tahu, bahwa sebuah sistem pendidikan adalah alat pembentuk karakter personal, lalu secara kolektif karakter2 personal ini akan mengkonstruksi budaya. Budaya yang dilahirkannya, bisa budaya yang baik maupun budaya yang buruk, yang disebut kebudayaan dan akhirnya melahirkan peradaban.

Tanpa sadar, selama beberapa generasi, sistem persekolahan telah menanamkan sebuah budaya yang penuh dengki, dendam, jumawa dan rivalitas. Doktrinnya adalah siapa yang paling hebat adalah yang paling mampu mengungguli siapapun, yang paling bisa berdiri tegak di atas siapapun.

Dan yang paling mengerikan adalah untuk mencapai itu semua, maka semua cara dihalalkan. Sudah mafhum, sejak PAUD, anak anak belum cukup umur dimanipulasi agar bisa calistung sbg syarat masuk SD. Sudah rahasia umum di kalangan pelajar smp, sma untuk bahu membahu membeli bocoran soal, sementara guru guru bergotong royong memberikan jawaban soal, para ortu bersikap seolah tidak tahu menahu dstnya. Sementara di kalangan mahasiswa untuk menjiplak skripsi dan tesis sudah dianggap kelaziman.

Tentu saja itu semua demi Tuhan baru bernama kompetisi dan keunggulan semu, layaknya Lata dan Uza.

Tuhan baru untuk memperebutkan status sosial semu dengan sedikit remah remah dunia. Sungguh kepalsuan demi kepalsuan yang melahirkan budaya kepalsuan, kebencian, rivalitas, kedengkian dsbnya yang mengorbakan semua kesejatian dan misi penciptaan manusia.

Mari kita ingat ingat, sejak bersekolah, umumnya kita terpola untuk tidak pernah benar benar ikhlash melihat anak lain dipanggil maju ke depan ketika upacara, untuk menerima penghargaan atau hadiah sebagai juara umum, juara satu, dua dan tiga.

Begitu juga sejak kita menikah dan memiliki anak, umumnya kita juga tidak bisa ridha ketika melihat anak orang lain yang juara melebihi anak kita. Kita selalu ingin melihat anak kita menyaingi teman2nya dalam segala hal. Kita lupa bersyukur dan beriman atas fitrah keunikan kebaikan setiap anak.

Selalu terbersit, bahwa saya atau anak saya juga bisa. Obsesi yang menuduh kecurangan pihak lain atau pembenaran atas “ketidakberhasilan” kita. Kita bertepuk tangan, tapi hati kita meradang, senyum kecut mengembang. Ketidakberhasilan dimaknakan sebagai kegagalan berkompetisi yang sangat memalukan untuk menjadi pemenang.

Lihatlah banyak orangtua dan guru, masyarakat, para pengambil keputusan dll selama beberapa generasi itu telah memuja dan menyembah keunggulan tunggal lewat kompetisi, menggantikan Tuhan. Padahal tiap manusia punya martabat atas tugas, peran atas keunikannya masing2 untuk saling mengenal dan bekerjasama.

Itu semua karena kompetisi sudah menjadi budaya, kompetisi dalam benak banyak orang adalah sebuah keniscayaan bahkan sebuah kewajiban layaknya fardu ‘ain.

Lalu semakin hari semakin banyak lahir sekolah sekolah yg diberi “branding” keunggulan, yang hanya diperuntukan untuk para juara. Sekolah bagai sebuah arena pacuan dimana anak anak digegas berkompetisi. Padahal semakin hari semakin banyak orang salah jurusan dalam belajar, salah karir dalam bekerja, salah bisnis ketika pensiun. Banyak orang unggul bergerak tanpa tujuan manfaat kecuali mengungguli orang lain semata.

Para pemenang di sekolah dan di masyarakat adalah mereka yang memperoleh score tertinggi dalam akademik, begitu membanggakan dan dipuji siapapun. Lalu para pecundang terlihat begitu menjijikan, memalukan dan bahkan layak dipermalukan, diolok olok seumur hidupnya dengan sebutan si bodoh, si nakal, si dungu dstnya.

Si bodoh atau si nakal yang tidak suka pelajaran di sekolah ini terus dikenang dalam pertemuan dan reuni sekolah sampai akhir hayatnya, “oh si bodoh itu ya…, oh si rangking terakhir, …oh dia yang berkali kali tidak naik kelas itu ya,… oh dia yang gagal di ujian,… dstnya. Biasanya mereka yang dicap demikian akan terpicu rasa dendam sosial dan pembuktian eksistensi yang menyimpang.

Status ranking sekolah ini kemudian berkembang menjadi status sosial. Segregasi sosial berupa bodoh dan pandai kemudian bergeser jadi miskin dan kaya, pecundang dan pemenang, dengan menggunakan cara apapun. Konsep diri yang rusak, membawa penyakit sosial dan terbawa sampai kubur

Jelas siapapun menolak kekejaman sosial macam itu bagi yang dianggap pecundang, maka lahir kesimpulan atau antitesis dari kekejaman sosial ini berupa filosofi hidup, “jangan pernah dikalahkan oleh siapapun, kekalahan adalah kehinaan tak terampunkan, maka selalulah di atas, apapun caranya, at all cost, at all risk”

Sepanjang sejarah kapitalisme ditegakkan, kompetisi adalah jantungnya. Kompetisi sesungguhnya hanya ilusi kemajuan, pacuan yang tidak menuju kemana mana kecuali ekses kerusakan kemanusiaan dan alam. Kompetisi mendorong individu, lembaga atau perusahaan selalu mengintip permainan lawan, meniru niru, membajak, mencurangi dstnya.

Tidak ada kreatifitas positif dan kemaslahatan ummat dihasilkan lewat kompetisi, kecuali obsesi mengalahkan siapapun. Setiap tindakan dikendalikan oleh permainan lawan dan meniru niru pesaing.

Di ranah bisnis, kompetisi akan terus terus memangkas biaya produksi, mengeksploitasi sumberdaya, mencari pengganti bahan baku semurah mungkin walau berbahaya, menekan biaya dan gaji pekerja, menghadirkan produk dgn harga serendah mungkin dengan kualitas pas pasan. Jika terus dikakukan maka sampai sebuah titik, akan membunuh semuanya.

Kompetisi tidak sesederhana yang dibayangkan. Perhatikanlah, bila ini sudah menjadi budaya yang dilakukan secara masif, sadar maupun tidak maka akhirnya akan menghancurkan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam.

Manusia dan alam “boleh dirusak” atas nama kompetisi. Banyak orang baik “terbunuh” atas nama kompetisi. Kompetisi yang dicetuskan Darwinisme Sosial ini telah merusak akidah dan keimanan sampai kepada peradaban ummat manusia.

Di ranah sosial, kompetisi masuk ke dalam institusi lembaga pemerintahan, ke persekolahan bahkan ke lembaga agama, lembaga zakat, LSM dsbnya.

Mereka berlomba bukan lagi demi kebaikan bersama dalam tugasnya masing masing sehingga menebar rahmat, tetapi berlomba untuk bertarung demi kebaikan diri sendiri dengan mengkhianati tugasnya masing masing sehingga menebar laknat dan maksiat.

Mari kita segera menyadari dan bertaubat dari sistem pendidikan berbasis persaingan, menuju pendidikan berbasis potensi keunikan dan akhlak.

Mari segera rancang pendidikan anak anak kita yang membangkitkan fitrah2 baik mereka, yang mengkonstruksikan budaya kerjasama saling melengkapi dan menghargai keunggulan unik tiap manusia baik personal maupun komunal.

Agar bangsa dan peradaban tidak ditegakkan di atas puing2 kehancuran yang menghinakan martabat manusia, organisasi atau bangsa lain, tetapi ditegakkan atas manfaat bersama dan rahmat semesta alam.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber: https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10205846381908847

Imanan wa Ihtisaban #9

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Beberapa tahun silam, seorang ibu menuliskan statusnya di sosial media sbb

“Alhamdulillah anak saya yang hafizh alQuran, sekarang sudah tamat dari ITB, mohon doanya agar segera diterima bekerja”

Apa yang kita fikirkan dan imajinasikan ketika membaca status ini? Mungkin sebagian besar kita merasa baik baik saja dengan status ini, tiada yang nampak salah, itu doa yang baik.

Itu memang doa yang baik dan biasa saja dalam masyarakat modern dimana orang berfikir bahwa begitulah kehidupan, bagaimana agar anak bisa setinggi tingginya bersekolah, rajin beribadah, menguasai ilmu agama dan ilmu dunia, lalu kuliah di kampus wah, menikah, dapat pasangan sholih/sholihah, bekerja di tempat basah, bisa hidup sosial kelas menengah sampai mewah, banyak sedekah lalu wafat husnul khotimah dan masuk jannah. Ini kehidupan yang biasa saja, life as usual.

Namun, andai kita kaitkan dengan konteks maksud penciptaan (the purpose of life), dimana Allah menghadirkan manusia di muka bumi bukan kebetulan tetapi untuk beribadah dan menjadi khalifah, lalu setiap kita hadir di dunia tentunya punya tugas sebagai alasan kehadiran kita di dunia, maka kita akan punya perspektif berbeda, kita akan melihat hidup sebagai kemuliaan besar dan perjuangan besar sebagai wujud keimanan.

Tugas kita di dunia itu berupa peran peran spesifik peradaban (mission of life) dalam rangka mencapai maksud penciptaan itu. Tugas atau peran itu adalah wujud keimanan, karenanya ia merupakan perjuangan dan ujian keimanan utk menyeru kebenaran dan membuat perubahan. Maka dalam perspektif peradaban itu, kehidupan itu bukan tentang bagaimana hidup sejahtera, menjadi orang baik baik dengan keshalihan personal dan sosial apalagi untuk mencari kesenangan diri semata dst nya, bukan.

Tetapi kehidupan itu adalah tentang bagaimana menemukan dan mewujudkan peran peran spesifik atau misi hidup itu lalu berjuang mewujudkannya sampai mati sehingga mampu menebar sebanyak banyak rahmat dan sebesar besar manfaat kepada ummat manusia dan semesta selama di dunia sebagai wujud keimanan yang kokoh.

Pantaskah jika ada orang yang merasa punya majikan, setiap hari “ngantor” di kantor majikan, pakai seragam kantor namun tidak tahu job desk nya, kerja serabutan, lalu mengaku ngaku karyawan dan berharap dapat gajian dan bonus. Begitupula kita manusia, mengaku hamba Allah dan khalifah Allah di muka bumi namun tidak mempunyai tugas spesifik atau peran spesifiknya atau misi hidupnya di dunia.

Jadi sesungguhnya Keimanan atau Imanan dalam pendidikan harus berwujud pada upaya mengantarkan anak anak kita kepada peran peradaban terbaik atau misi besar kehidupannya yang berangkat dari keimanannya yang kokoh untuk membuat perubahan bagi dunia yang lebih damai dan hijau sebagaimana yang Allah kehendaki.

Hamka dalam bukunya “Pribadi yang Hebat”, menulis

“Banyak Guru, Dokter, Hakim, Engineer, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diploma-nya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita, selain dari pada kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup, mencuba sesuatu baru dan berbakti kpd masyarakat.”

Hari ini kita barangkali merasakan bahwa banyak orang yang tersekolahkan dengan baik (well schooled), namun gagal terdidik dengan baik (un well educated). Kita gagal membawa keimanan masuk ke jantung pendidikan. Pembangunan karakter atau akhlak tanpa keimanan itu omong kosong, hanya mimpi di siang bolong.

Mengapa Pendidikan Islam hari ini condong kepada Penguasaan Ilmu tanpa Peran Peradaban atau Misi Hidup?

Antara tahun 80-90, kita demam untuk melahirkan generasi Ulil Albab, kita terpesona oleh peradaban Islam masa lalu yang mampu menghadirkan orang orang yang menguasai ilmu agama dan sains secara seimbang dan lengkap. Di masa 80an itu ada tokoh seperti pak Habibie yang nampak amazing bagi banyak orang sehingga mulailah babak baru pendidikan Islam untuk melahirkan manusia berotak jerman dan berhati mekkah.

Wujudnya berdiri sekolah sekolah Islam yang ingin memadukan Imtaq dan Iptek, pada prakteknya terjadi akumulasi kurikulum akademik umum nasional dan kurikulum akademik agama bukan integrasi islam dan sains. Memadukan Islam dan sains tak pernah terjadi .

Hal ini berlangsung sampai hari ini. Kurikulum sekolah Islam semakin berat bagi siswa maupun guru, kini bahkan ditambah kurikulum pesantren untuk hafizh alQuran dan bahasa Arab. Belum lagi akhlak dan karakter.

Walhasil kita lupa menekankan bahwa keimanan dalam pendidikan itu seharusnya masuk kepada misi besar dan narasi besar untuk mengantarkan anak anak kita kepada jalan jalan atau peran peran besar peradabannya bukan sekedar penguasaan ilmu agama dan ilmu sains semata. Kita lupa membawa dan menghantarkan generasi peradaban kepada takdir jalan peran peradabannya.

Jangan sampai generasi kita seperti diumpamakan di dalam alQuran seumpama Keledai yang membawa Kitab kitab. Keledai yang membawa kitab itu dikiaskan pada manusia yang bukan hanya tak paham kitab namun juga paham kitab tetapi tak tahu jalan.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik kesadaran kita bahwa keimanan harus masuk ke semua lini kehidupan termasuk pendidikan sehingga gairah keimanan atau aqidah yang kokoh itu berwujud pada upaya mengantarkan anak anak kita kepada peran peradaban terbaiknya bukan penguasaan banyak banyak pengetahuan agama dan sains semata.

Alangkah indah jika status Ibu di atas ditulis dalam konteks peran peradaban

“Alhamdulillah anak saya yang hafizh alQuran, sekarang sudah tamat ITB, mohon doanya agar istiqpmah karena sedang merintis dakwah di Papua dengan mengembangkan energi terbarukan dan pendidikan perikanan untuk Indonesia yang lebih hebat dan dunia yang lebih baik”

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Renungan Pendidikan #21 – Mari kita kembalikan pendidikan sejati berbasis fitrah

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Andai guru2 dari abad ke 19, dilahirkan kembali di abad 21, maka mereka akan terkaget kaget melihat betapa canggihnya perkembangan teknologi dan gedung menjulang di abad 21.

Namun mereka akan biasa biasa saja, ketika masuk ke ruang2 kelas sekolah. Mengapa?

Karena apa yang ada di ruang kelas sekolah hari ini tidak pernah berubah sejak 100 sampai 200 tahun terakhir, sejak era revolusi industri dimulai.

Pemandangan yang selalu sama sejak 200 tahun yang lalu. Guru yang berdiri di depan kelas, murid murid berseragam duduk di barisan bangku bangku dan meja meja tersusun rapi, wajah wajah yang menghadap ke depan, papan tulis yang setia menghadap siswa dstnya. Deringan bel setiap usai pelajaran pun selalu ada sejak dua ratus tahun lalu.

Pemandangannya selalu sama, guru guru yang nampak serba tahu, dan terlalu banyak “menggurui” dan murid murid yang banyak “mendengar” dan menjawab pertanyaan.

Tentu yang terpandai adalah yang jawabannya paling sesuai dengan selera guru, yaitu yang paling banyak menjawab pertanyaan dengan “cerdas cermat” dan “cepat tepat” sesuai buku, kisi kisi dan tentu saja selera gurunya.

Maka jangan heran, bila anak anak Indonesia dikenal paling jago menjawab namun paling sulit bertanya. Padahal pertanda matinya fitrah belajar adalah diawali dengan hilangnya semangat bertanya karena matinya nalar (nadzor).

Pemandangan lainnya adalah guru guru yang terlalu banyak diam namun rajin memberi catatan dan pekerjaan rumah. Bagi mereka mendidik adalah menghabiskan bahan ajar. Sebuah riset menyatakan bahwa ada begitu banyak “Silent Class” di sekolah sekolah Indonesia.

Bagi kebanyakan anak anak kita, hal yang paling berkesan ketika bersekolah hanya dua hal, yaitu bel istirahat dan bel pulang.

Selama seratus tahun lebih ada stress yang sama ketika ujian, ada tekanan kompetisi yang sama, ada pemilahan si bodoh dan si pandai, si bengal dan si penurut, si juara dan si pecundang, si kaya dan si miskin dstnya.

Selama lebih dari sepuluh dasawarsa, masalahnya selalu sama. Murid murid yang patuh dan penurut serta jaim di hadapan para guru namun ada ribuan penyimpangan perilaku di luar pagar sekolah.

Sekolah bagai etalase toko atau restoran atau hotel mewah yang nampak indah, mahal, megah menggiurkan bahkan terlihat relijius, namun di balik itu ada begitu banyak pengkhianatan dan kecurangan dari siswa siswanya maupun guru gurunya, setidaknya membiarkan keduanya terjadi.

Tak perlu sulit membuktikannya, temukan ratusan mungkin ribuan film di youtube tentang bully, kekerasan, tawuran, pelecehan dan penyimpangan seksual, pembunuhan dll dari anak anak dan pemuda generasi kita. Mereka umumnya anak anak yang dikenal “baik baik” saja di sekolah.

Selama lebih dari seratus tahun, fitrah bakat anak anak kita dihilangkan, hanya yang berbakat akademislah yang mendapat tempat penghargaan, ada sedikit bakat lainnya diletakkan sebagai ekskul selebihnya dibiarkan hilang dan terkubur.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah personal, berupa fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar dan fitrah perkembangan yang berakibat rusaknya mentalitas, moralitas dan rendahnya produktifitas serta meningkatnya depresi.

Cukup 200 tahun ini ummat manusia disengsarakan sistem pendidikan yang abai terhadap fitrah komunal, berupa fitrah alam, fitrah keunggulan lokal, fitrah realitas sosial masyarakat dan kehidupan, fitrah kebudayaan dan kearifan serta sistem hidup atau agama. Ini berakibat rusaknya alam, ketergantungan masyarakat, keterjajahan ekonomi, urbanisasi besar besaran dstnya.

Mari kita kembalikan pendidikan sejati berbasis fitrah, di mulai dari rumah2 kita, dari komunitas2 kita, secara bersama dan berjamaah. Sesungguhnya pendidikan sejati akan melahirkan peradaban sejati yang berakhlak mulia untuk anak dan keturunan kita, karena itulah yang menjawab mengapa kita hadir di muka bumi, mengapa kita menikah dan mengapa kita memiliki keturunan serta mengapa kita mendidik.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber : https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10205812797709263

Renungan Pendidikan #20 – Mari kita perbaiki keimanan dan cara pandang kita tentang potensi keunikan anak anak kita

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

“Bukan Aib!”, kata Abu Bakar RA, “…bukan aib bila seseorang tidak mengetahui sesuatu yang tidak relevan dengan dirinya”.

Jika anak kita hanya suka pelajaran matematika, namun tidak suka pelajaran bahasa, atau sebaliknya, apakah masalah buat kita?
Jika anak kita tidak suka semua pelajaran, sukanya hanya “menggambar”, “mengkhayal”, “merenung”, “mengobrol”, “memasak”, “beres beres rumah”, “mengumpulkan teman teman” dll , apakah masalah buat kita?

Bagi negara anak anak kita seperti di atas akan dianggap bermasalah besar, bahkan dianggap produk gagal, tidak punya masa depan.

Bagi sekolah yang memberhalakan nilai akademis, hal seperti di atas akan dinilai “sangat bermasalah”, anak anak kita terancam dikeluarkan, dicap merusak prestasi, tidak layak disekolahkan dstnya.

Bagi orangtua yang obsesif, hal ini dianggap mimpi buruk, masa depan suram, mungkin dianggap musibah bagi keturunan dstnya.

Gejala bahwa seorang anak harus hebat semuanya, harus tahu semuanya melanda dunia sampai hari ini. Kompetisi adalah harga mati.

Sebuah penelitian, memberi pertanyaan, “Bila anak kita pulang, membawa rapor dengan nilai 7,9,5 dan 3, maka yang mana menjadi fokus kita?”

Penelitian itu membuktikan 78% orangtua di Eropa fokus pada nilai 5 dan nilai 3. Di Amerika 64% orangtua hanya melihat pada nilai 5 dan nilai 3.

Di Indonesia belum dilakukan penelitian, namun tampaknya tidak jauh berbeda, mungkin lebih panik.

Begitulah dunia paska era revolusi industri dan perang dunia, anak anak kita dianggap tentara yang harus mengusai semua hal secara seragam. Anak anak kita dianggap komoditas produk yang harus memenuhi standar layak jual.

Di ujung setiap rantai produksi ada QC (quality control) yang melakukan “reject” dan “accept” bagi produk, bernama Ujian Nasional.

Kita lebih suka melihat sisi negatif seseorang daripada sisi positif seseorang. Kita lebih suka mengecam kelemahan daripada menghargai kelebihan seseorang.

Cara pandang berbasis kekurangan atau “deficit/weakness based” ini melanda hampir semua orang, konon mencapai 80% warga dunia. Tak pelak lagi juga melanda kaum Muslimin.

Padahal dalam pandangan orang beriman, sejatinya segala sesuatu telah diciptakan Allah sesuai jalan suksesnya masing masing (syaqila). Orang beriman adalah mereka yang meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, telah tertanam potensi fitrahnya masing masing. Orang beriman sejatinya adalah orang yang paling menghargai potensi kekuatan atau keunikan anak2nya.

Ketahuilah bahwa berbagai penyimpangan perilaku anak dan remaja, seperti tawuran, bully, penyimpangan seksual dll adalah karena obsesi bahwa semua anak harus bisa semuanya, harus menjadi paling unggul melampaui siapapun, harus paling cerdas mengalahkan semuanya dstnya.

Anak anak kita jarang dihargai potensi keunikannya, dihargai kelebihannya. Mereka terus dikecam kelemahannya, mereka dipaksa menjadi orang lain yang dianggap lebih sukses, lebih pandai, lebih cerdas dstnya. Kita mengaku beriman namun menjadi manusia yang paling ingkar terhadap adanya potensi keunikan fitrah anak anak kita.

Anak2 dan pemuda2 yang dihargai potensi keunikan fitrah bakatnya, lalu ditemani untuk mengembangkannya akan tumbuh menjadi pemuda yang eksis jatidirinya, yang “kutahu yang kumau”, yang jauh dari galau dan perasaan terbuang dan hina. Mereka disibukkan menguatkan potensi unik produktifnya secara positif.

Mari kita perbaiki keimanan dan cara pandang kita tentang potensi keunikan anak anak kita, sehingga kita mau dan mampu mensyukuri, menghargai dan menumbuhkan karunia Allah ini lalu memuliakannya dengan akhlakul karimah.

Berhentilah mengecam, berhentilah obsesif, berhentilah membanding2kan, berhentilah menambal keterbatasan anak anak kita, fokuslah pada potensi keunikan dan kekuatannya yang merupakan panggilan hidupnya, misi spesifik penciptaannya di dunia, peran spesifiknya sebagai khalifah di muka bumi. Misi yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber : https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10205801807634518

Imanan wa Ihtisaban #8

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Keimanan juga harus masuk ke dalam jantung pernikahan dalam wujud narasi narasi besar peradaban dari para suami sejati dan ayah sejati yang di dukung oleh para istrinya dan anak anaknya dalam sebuah misi perjuangan besar yang disepakati oleh mereka.

Keimanan yang tak berwujud begitu, maka pernikahan hanya kumpulan suami beragama dan istri beragama serta anak anak beragama yang hidup menjalankan rutinitas dunia dan rutinitas ritualitas tanpa makna.

Berapa banyak suami yang mengaku beragama, namun membawa masuk kemungkaran ke dalam rumah tangganya yang menjadi energi negatif bagi anak dan istrinya. Berapa banyak suami yang paham agama namun bersikap kasar pada anak dan istrinya. Berapa banyak suami yang mengaku beragama namun tak tahu mau dibawa kemana keluarganya dalam peran atau misi keluarga di dunia.

Keluarga tanpa misi keluarga dan proyek proyek perjuangan mewujudkan misi itu yang berangkat dari gairah keimanan yang kokoh, hanya akan menjadi keluarga yang rapuh dan rentan. Steven Covey menyebutkan bahwa keluarga tanpa misi (family mission statement), ibarat kapal terbang tanpa destini, tidak tahu kemana tujuan penerbangan, mereka hanya menunggu bahan bakar habis atau mudah terhempas oleh cuaca dan awan yang buruk.

Pasangan suami istri yang meletakkan peran keluarganya dalam narasi besar peradaban sebagai bagian utama keimanannya, akan sibuk dengan hal hal besar dan perjuangan yang besar dalam pernikahannya. Walhasil cinta merekapun semakin besar.

Pasangan suami istri yang gagal meletakkan peran keluarganya dalam peradaban, akan tak punya perjuangan besar yang dilakukan dengan seru sehingga akan semakin menghambarkan cinta mereka. Mereka akan disibukkan oleh hal hal kecil dan remeh temeh yang memicu kebencian dan pertengkaran.

Dalam keluarga keluarga yang hampa dari misi perjuangan, tips tips komunikasi efektif suami istri, kiat kiat mengharmonikan hubungan dsbnya hanya akan semakin melelahkan, karena keluarga seperti itu tak punya akar keimanan yang berwujud dalam perjuangan bersama.

Sejarah membuktikan cinta suami pada istri yang mendukung penuh misi suaminya, adalah cinta abadi tak bertepi. Lihatlah cinta Habibie pada Ainun, cinta Ibrahim AS pada bunda Hajar, cinta Muhammad SAW pada bunda Khadijah RA dsbnya. Istri istri shalihah itu meleburkan seluruh potensi dan sumberdaya dirinya pada suaminya dan mereka mendapat apa yang layak didapatkan, keridhaan besar suaminya dan Robbnya.

Sejarah pun membuktikan bahwa istri istri yang mendukung penuh misi suaminya, akan melahirkan anak anak yang shalih yang mampu melanjutkan misi perjuangan ayahnya. Anak anak yang paham dan yakin akan misi besar perjuangan ayahnya atau keluarganya akan mudah diteladankan dan dishalihkan, mereka akan segera mandiri dan punya motif kuat dari dalam diri untuk beramal shalih dalam peran peradaban terbaik sebagai bagian misi besar perjuangan keluarganya itu.

Mari di bulan Ramadhan ini, kita wujudkan imanan dalam rancangan misi keluarga kita. Lalu setelah itu mari kita berpacu dan sibukkan pernikahan dan keluarga kita dengan cahaya keimanan yang berwujud dalam misi atau peran perjuangan besar yang menjadi jalan bagi keluarga kita untuk bersama di dunia dalam kebaikan yang penuh manfaat serta menjadi jalan bersama menuju syurgaNya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Renungan Pendidikan #19 – Mari kita bangun generasi baru, generasi peradaban yang tahapan tahapan perkembangannya sesuai dengan fitrah dan sunnatullahnya.

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Pernahkah kita mempertanyakan mengapa anak2 kita harus menjalani PG atau TK selama 3 tahun?

Mengapa anak2 kita harus menjalani SD selama 6 tahun?
Lalu mengapa anak2 kita menjalani SMP selama 3 tahun, lalu menjalani SMA selama 3 tahun?

Adakah landasan ilmiah dan risetnya? Adakah landasan syariahnya? Pernahkah menggalinya?
Mengapa kita pasrah bongkokan menerimanya? Mengapa?

Memang ada percepatan atau akselerasi sehingga bisa lebih cepat, tapi pertanyaannya tetap belum terjawab.
Mengapa ada penjenjangan demikian? Lalu mengapa kita tidak mempertanyakan?

Seorang psikolog Muslim, Malik Badri, tahun 1985 pernah ke Indonesia, beliau penulis buku “dilemma psikolog muslim”, mengatakan bahwa penjenjangan itu tidak pernah bisa dibenarkan secara ilmiah. Ini hanya pengamatan psikolog barat terhadap masyarakat mereka yang kemudian masuk dalam sistem persekolahan hampir di seluruh dunia.

Lalu apa makna penjenjangan ini? Lalu mengapa kita menelan mentah mentah begitu saja, menerima sebagai sebuah keimanan?
Lupakah kita bahwa anak2 kita bagai benih tumbuhan yang memerlukan tahapan perkembangan yang benar?

Lalu perhatikan setelah masa “siswa kecil” ada masa menjadi “mahasiswa” (siswa besar) selama 4 atau 5 tahun. Apa maknanya?

Para “pemuda kuliahan” tetap dianggap sebagai anak anak walau bernama mahasiswa atau “siswa besar”?

Padahal menilik usianya, para “siswa besar” ini sudah berusia di atas 17 tahun, sudah bukan lagi berada pada fase pendidikan,, tetapi fase berkarya dan berperan.

Belajar memang sepanjang hayat, namun bagi para pemuda ini, fase belajar untuk menjadi diri seharusnya sudah selesai, mereka seharusnya berada pada fase belajar untuk melahirkan peran dan karya. Kenyataannya hampir 90% mahasiswa tidak mengenal dirinya dengan baik apalagi menjadi dewasa (aqil).

Padahal secara syariah mereka sudah jauh melampaui usia aqilbaligh, dimana seluruh kewajiban syariah dan sosial sudah jatuh di pundak mereka sejak berusia setidaknya pada usia 14 tahun ketika tibanya kedewasaan biologis.

Lalu kembali pertanyaannya adalah apa makna dan maksud penjenjangan TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi ini ?

Sesungguhnya penjenjangan ini semata mata bukan untuk kepentingan tumbuh kembang anak anak kita secara utuh, namun untuk kepentingan kapitalisme dan sosialisme yang merekayasa kelas kelas sosial tenaga kerja atau buruh.

Penjenjangan ini mencerabut generasi dari akar masyarkatnya, akar kearifan dan pengetahuannya, bahkan akar budaya dan agamanya. Umumnya anak anak kita tidak punya idea memandirikan dirinya dan masyarakatnya atas potensi2 yang ada.

Generasi kita dan anak2 kita, telah disegregasi dalam kelas2 usia mirip peternakan hewan. Masyarakat kita terkotak kotak, terkungkung dalam kotak yang tidak sesuai fitrah perkembangan manusia.

Pemuda tetap dianggap anak anak bahkan sampai selesai kuliah. Anak anak dikelompokkan dalam kelas kelas usia yang tidak boleh beranjak kecuali jika lulus naik kelas secara akademis.

Lalu dengan bangga kita menyebut sekolah sebagai tempat sosialisasi, benarkah?

Padahal anak2 kita disekat sekat dalam ruang kelas dengan anak2 seumurnya selama seharian, apakah itu sosialisasi? Siapa gegabah yang menentukan demikian, untuk kepentingan siapa?

Selama berabad abad dunia hanya mengenal kelas anak anak dan kelas pemuda. Kelas remaja (adolescene) tidak pernah dikenal sampai abad ke 19. Ini kelas yang membocahkan para pemuda selama mungkin, sampai mendekati usia 25an bahkan akan terus lebih.

Sesungguhnya sepanjang sejarah kelompok yang ada hanya kelompok tahap dididik dan tahap berkarya. Kelompok tahap anak anak dan kelompok tahap pemuda aqilbaligh. Tahap pedagogis dan andragogis.

Walau demikian, dalam keseharian sebuah komunitas atau jamaah atau desa2 yg masih murni, tetap saja sosialisasi seperti gotong-royong terjadi antar semua usia, tidak dibedakan tua dan muda.

Mari kita kritis atas tahap perkembangan ini yang merupakan fitrah manusia. Jangan biarkan anak anak kita direkayasa sebuah sistem yang menternakkan generasi.

Mari kita bangun generasi baru, generasi peradaban yang tahapan tahapan perkembangannya sesuai dengan fitrah dan sunnatullahnya.

Tidak tumbuhnya fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar secara utuh pada tahap yang benar akan menyimpangkan peran peradaban anak anak kita. Sesungguhnya Insan Kamil adalah resultansi fitrah2 itu yang tumbuh sempurna sesuai tahapan yang benar.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber : https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10205790147823030